Berita Hawzah – Dalam khazanah sastra Iran, sering berhadapan dengan bait terkenal ini: ‘Akan lebih indah jika rahasia para kekasih disampaikan melalui ucapan orang lain.’
Selama tiga puluh tujuh tahun kepemimpinan dan kepengurusan Imam Khamenei yang syahid, jenis manajemen, pengarahan, dan metode pemerintahannya sedemikian rupa sehingga bukan hanya para pendukung, bahkan musuh-musuh yang keras sekalipun turut menyinggung dan pada hakikatnya mengakuinya. Sebagaimana pernyataan Condoleezza Rice, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, yang mencerminkan sebagian dari kenyataan ini, ketika ia mengatakan: ‘Pemimpin Iran dapat menetralkan rencana-rencana yang telah disusun oleh pikiran-pikiran terbaik dengan anggaran terbesar dalam waktu yang sangat lama dan dilaksanakan oleh para pelaksana yang terampil, hanya dengan satu pidato selama satu jam.’
Landasan religius dan Qur’ani dalam manajemen negara
Yang jelas, manajemen dan kepemimpinan Imam syahid memiliki dasar dan sumber yang, lebih dari apa pun, berakar pada ajaran Islam, Al-Qur’an, serta sabda-sabda bercahaya para maksumin (as). Dalam kerangka inilah, manajemen Syahid Imam Khamenei—yang bersifat ilmiah, cerdas, dan berbasis keahlian—perlu dianalisis dan ditafsirkan.
Imam Syahid Senantiasa Menekankan Pentingnya Memadukan Keahlian dan Komitmen
Poin yang juga disampaikan oleh Dr. Davoud Memari, seorang peneliti dan pengkaji Al-Qur’an, yang mengatakan: Pemimpin syahid revolusi meyakini bahwa setiap orang yang menerima tanggung jawab pada tingkat apa pun harus memiliki kemampuan manajerial dalam arti profesionalnya. Dalam berbagai pengangkatan jabatan, baik pada masa kepresidenannya maupun selama sekitar 37 tahun Kepemimpinan (Rahbari) Pemerintahan, selalu dipilih orang-orang yang secara ilmiah dan profesional sesuai serta selaras dengan bidang tanggung jawabnya. Oleh karena itu, tidaklah demikian bahwa karena sistem ini bersifat religius, maka aspek ilmiah dan keahlian menjadi terabaikan. Namun demikian, Imam syahid kita senantiasa menekankan pentingnya memadukan keahlian dengan komitmen, sebagaimana pendekatan Imam Khomeini yang agung juga demikian.
Komitmen dan Keahlian Harus Berjalan Bersama
Ia menambahkan: Pembahasan mengenai komitmen dan keahlian secara bersamaan—baik dalam penunjukan komandan militer, pejabat ekonomi, pengelola kebijakan luar negeri dan hubungan internasional, maupun pada tingkatan lainnya—senantiasa menjadi perhatian. Sebab, individu yang dipilih harus memiliki pemahaman yang utuh terhadap prinsip dan metode profesional di bidangnya. Oleh karena itu, Syahid Imam Khamenei selama masa kepemimpinannya berulang kali menegaskan bahwa pergantian personel tidak boleh semata-mata didasarkan pada pertimbangan politik, kelompok, atau faksi. Sebaliknya, dalam posisi-posisi penting dan strategis, yang harus diutamakan adalah kompetensi ilmiah dan profesional, serta kelayakan moral dan ideologis.
Memari juga menyebutkan bahwa perhatian terhadap prinsip spiritualitas, komitmen keimanan, dan ketakwaan merupakan ciri penting lainnya dalam manajemen menurut pandangan pemimpin syahid. Ia mengatakan: Berbeda dengan banyak model manajemen di negara lain, Imam dan pemimpin syahid kita, di samping keahlian, beliau juga memberikan perhatian khusus pada iman, spiritualitas, ketakwaan, akhlak, amanah, bahkan latar belakang keluarga seseorang. Menurut beliau, seorang manajer yang layak harus memiliki karakter sebagai pribadi yang beriman.
Meneladani Sunnah Mulia Nabi Muhammad (saww) dan Amirul Mukminin Ali (as)
Ia dengan menyinggung sirah mulia Rasulullah (saww) dan Amirul Mukminin Ali (as) dalam hal ini menyatakan: Sebagaimana yang kita lihat dalam Nahjul Balaghah, Amirul Mukminin (as) selama empat tahun sembilan bulan masa pemerintahannya, dan juga Nabi Muhammad (saww) selama sepuluh tahun kepemimpinannya di Madinah, ketika mengangkat komandan militer atau gubernur kota, selain mempertimbangkan kemampuan ilmiah dan manajerial, mereka juga pasti memperhatikan ketakwaan, rasa takut kepada Allah, dan amanah individu tersebut. Dengan demikian, seseorang memandang Allah hadir dan mengawasi seluruh perbuatannya, tidak berkhianat terhadap baitul mal, serta melakukan pengangkatan dan pemberhentian berdasarkan prinsip meritokrasi.
Pengkaji Al-Qur’an tersebut melanjutkan: Inilah pola yang juga terlihat jelas dalam manajemen pemimpin syahid. Beliau, selain berpegang teguh secara pribadi pada prinsip-prinsip ini, senantiasa menekankan kepada para pejabat bahwa keahlian memang sangat penting, tetapi tanpa komitmen, keahlian tersebut justru bisa menjadi merugikan, bukan bermanfaat. Dengan kata lain, meskipun seorang pejabat sangat ahli, jika tidak memiliki komitmen, maka keahliannya tidak akan menjamin kepentingan rakyat dan pemerintahan.
Penekanan pada Pentingnya Pengawasan Publik
Ia juga, dengan menyinggung salah satu karakteristik lain dari manajemen dalam pandangan pemimpin syahid revolusi, mengatakan: Peran serta dan pengawasan rakyat terhadap para pejabat merupakan indikator penting ketiga dalam pandangan manajerial pemimpin syahid. Beliau dalam setiap pengangkatan, setelah mempertimbangkan keahlian dan komitmen individu, menekankan bahwa para manajer harus memperhatikan peran rakyat dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan tugas, serta menghargai pandangan dan kritik masyarakat.
Ia menambahkan: Dalam arahan-arahannya kepada para pejabat, beliau menegaskan agar mereka mendengarkan pandangan dan kritik rakyat, menanggapinya dengan serius, serta mempertimbangkan usulan masyarakat—jika rasional—dalam program-program mereka; sehingga arah kebijakan didasarkan pada kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau golongan.
Untuk Memahami Karakteristik Kepemimpinan Pemimpin Syahid Diperlukan Waktu
Menurut Hujjatul Islam wal Muslimin Qasim Tarkhan, anggota dewan ilmiah Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pemikiran Islam, memahami karakteristik kepribadian pemimpin syahid—terutama dalam hal manajemen negara dan kepemimpinan umat—memerlukan waktu.
Ia menyatakan dalam hal ini: Dalam kondisi saat ini, kita seperti orang yang berdiri di kaki gunung dan tidak mampu memahami keagungannya; atau seperti ikan yang hidup di dalam air namun tidak menyadari nilainya.
Ia menambahkan: Tinjauan singkat terhadap masa 37 tahun kepemimpinannya menunjukkan bahwa Imam Khamenei yang syahid, sebagaimana Imam Khomeini (ra), memiliki iman dan keyakinan yang kokoh terhadap tujuan, jalan, dan sunnah-sunnah Ilahi. Di sisi lain, beliau juga meyakini kekuatan rakyat. Sebagaimana pada hari-hari terakhir kehidupannya beliau menyatakan bahwa jika terjadi peristiwa terhadap Iran, Allah SWT akan menggerakkan rakyat ini dan merekalah yang akan menyelesaikan urusan; hal ini menunjukkan keyakinan mendalam beliau kepada Allah SWT serta kepercayaan terhadap kemampuan rakyat Iran yang beriman.
Keyakinan Mendalam Pemimpin Syahid terhadap Rakyat dan Sunnah Ilahi
Hujjatul Islam wal Muslimin Tarkhan juga mengatakan: Pemimpin syahid dalam pidato-pidatonya menekankan bahwa wilayah (kepemimpinan) memiliki tiga dimensi, yaitu menjaga ikatan internal, memutus hubungan dengan kekuatan-kekuatan asing yang berlawanan, serta menjaga hubungan dengan jantung umat Islam. Dalam hal ini, peran rakyat sangat menonjol, karena menjaga persatuan rakyat dan kaum beriman, sikap mereka yang menentang kekuatan arogan, serta ikatan kuat antara rakyat dan pemimpin masyarakat merupakan syarat untuk mengatasi berbagai fitnah dan kejahatan musuh. Setelah kesyahidan beliau, hal ini kami saksikan secara nyata dalam Perang Ramadan.
Komentar Anda